KSP Hipmi Bakal Jadi Bank UMKM
ksphipmi.com | JAKARTA Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menargetkan koperasi simpan pinjam yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menjadi cikal bakal bank UMKM.
Silmy Karim, Ketua II Dewan Pengurus Pusat Hipmi, mengatakan pendirian bank UMKM itu membutuhkan sekurangnya dana Rp 1 triliun, yang akan dikumpulkan dalam waktu 3 tahun. ” Dengan kebersamaan Hipmi beserta potensi keanggotaannya yang besar, Insya Allah kami bisa mewujudkan bank untuk melayani usaha mikro maupun kecil,” papar Silmy, seusai pembukaan Sidang Dewan Pimpinan Hipmi, kemarin.
Sidang Dewan Pimpinan Hipmi dibuka oleh Presiden, yang sekaligus meluncurkan KSP Hipmi. Sumber dana lain yang siap mendukung pendirian bank UMKM adalah anggota senior Hipmi yang sudah mapan. ” Mereka sudah berkomitmen mengalokasikan dana bagi pembentukan bank UMKM.”. Hipmi, juga tengah melobi perbankan nasional untuk menyalurkan pinjaman bagi UMKM dengan sistem chanelling. Hipmi juga mengharapkan dana pendampingan UMKM dari pemerintah dipercayakan kepada organisasi pengusaha itu. Untuk operasional perbankan dalam pendirian bank UMKM, Hipmi tengah menjajaki kerja sama dengan salah satu perusahaan BUMN yang juga bergerak di bidang jasa permodalan. ” KSP Hipmi akan dioptimalkan melayani keperluan permodalan UMKM. Tiga tahun adalah waktu yang panjang, jadi kami haras memperkuat KSP sembari modal. Setelah itu langsung mendeklarasikan bank UMKM,” tukas Silmy.
Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa menilai struktur ekonomi nasional belum berpihak kepada industri kecil dan masih berpihak kepada industri besar. ” Contoh kasat mata adalah, setiap penurunan suku bunga, industri kecil hanya kebagian ampasnya,” kata Erwin pada konferensi pers menjelang Sidang Dewan Pimpinan Hipmi di Jakarta, Senin. Erwin, melalui siaran pers Hipmi, menjelaskan industri kecil tidak memiliki kemampuan lobi seperti pengusaha besar, sehingga tetap mendapatkan kredit dalam jumlah sedikit tetapi bunganya yang besar. ” Ini sangat kontras dengan pengusaha besar yang mendapatkan pinjaman besar dengan grace period yang cukup lama. ” Erwin meminta perbankan menyatakan keberpihakan pada industri kecil dengan menurunkan bunga pinjaman yang saat ini masih di atas 16%. Padahal, korporasi mendapat bunga sangat rendah, (moh. FATKHUL MASKUR)

















